My Opinion

website murah

My Daniel

BELAJAR MENCIUM TANGAN IBU

Mengaji waktu, berabad lalu telah kita pangkas
musim yang keras dan dingin, sehabis kecut angin meluruhkan
nyanyi daunan sampai juga mencium hulu tanah
Ibu, anakmu masih menetek pada puting malam
mencecap basah nafasmu
sepanjang denyut gerimis membasahi jam jam pasir
yang menggeraikan jalinan usia

Ketika alamat yang kau tepukkan dipundak tersaruk lipatan
kabut, diam diam kau sisakan susu cahaya
tapi, Ibu, anakmu terus merenangi remah kesunyian tanpa peta
terambing ombak fatamorgana
doa doa hanyalah tetiang kelabu yang terbakar
disimpang pagi tempat anak anakmu kembali menggadaikan kenangan
dengan wajah kapasnya mengubur impian semalam

Tinggal jejak purba mewariskan tahun tahun luka
kematian yang tersimpan pada isyarat bulan dan garis tangan
sebagaimana giras kemarau memburu masa silam
anakmu terkapar di tepian senja yang gagap, Ibu,
rinduku mencium tanganmu sebelum mengamini sendiri catatan
sejarah menuliskanmu sebagai kekasih tanpa airmata
tanpa airmata.

Jogjakarta, Oktober 2001
http://www.aiaa.org.au/news/news11/poems.html

]]>

Discussion

One comment for “My Daniel”

  1. kok kosong ? he he he

    Posted by widis | May 16, 2008, 12:52 am

Post a comment (Do-Follow, please be wise !)

Livecommunity powered by six groups